Melestarikan Hutan, Penerapan Nilai Adat Gayo Dalam Bahan Ajar Mulok - Pelantikan Tastafi Bener Meriah, Abu Mudi Mesra Harap Tanggung Jawab - Hari Santri Wujud Pengakuan Negara Ke Ulama, Abuya Sarkawi Saya Bangga Jadi Santri! - Sejumlah Pelayan Masyarakat di Bener Meriah Dapat Tiket Umrah Gratis - Pansel Serahkan Berkas 15 Calon Anggota KIP Bener Meriah - TMMD Ke 103, Kodim 0106 Aceh Tengah Bener Meriah Buka Jalan Sepanjang 5.500 Meter - KORPRI Bener Meriah Gelar Porda ASN 2018 - Danrem dan Plt Bupati Bener Meriah Tinjau Lokasi TMMD 103 - Plt Bupati Bener Meriah Wisuda 1140 Santri - Pemuda Pancasila Bandar Serahkan Bantuan Tsunami Palu Donggala - Pemkab Bener Meriah Ikuti Sidang APBK Perubahan Dengan DPRK - Sebanyak 256 Orang Ikuti MTQ Ke-7 Bener Meriah - Sebanyak 11 Juta lebih Pemkab Kumpulkan Dana Korban Untuk Palu - Abuya Syarqawi Akan Buka MTQ Ke-7, Ini Jadwalnya - Peringatan Milad Dayah Terpadu Bustanil Arifin Ke 18 -

Hiburan Tampil di Anjungan Bener Meriah Grup Didong ARITA Bawa Tema Sejarah Radio Rimba Raya

10-08-2018 10:39:03

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Klub didong yang dipadukan dengan teaterikal dibawah binaan seniman gayo M Isa Arita menjadi pusat perhatian pengujung saat tampil di PKA ke 7 di Anjungan Bener Meriah, Kamis (9/8/2018) malam.

Grup didong dan teatrikal, yang beranggotakan 15 orang tersebut berkisah tentang sejarah Radio Rimba Raya yang didirikan di hutan rimba serta memiliki peran penting dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.

M Isa Arita, selaku ketua mengatakan mereka memainkan lagu-lagu kemerdekaan dan perjuangan dalam mengenang cikal bakal RRI itu.

Itu diambil dari kisah nyata dan disusun menjadi sebuah lagu didong yang dipadukan dengan teatrikal pada masa pimpinan Sukarno ditahan sehingga tidak memiliki peran.

Ia manambahakan, pada saat itu Pemerintah Darurat terus didirikan dan Syafrudin  selaku perwira negara wilayah Aceh yang tergolong aman perlu diadakan siaran berita.

“Divisi 10 mengatur puasi melawan kompeni dan segala cara Kolonel Husin Yusuf gagah berani memasang RRI di Hutan Rimba,” katanya.

Disebutkanya, dalam lirik lagu tersebut juga disampaikan Radio Rimba Raya mengumandangkan negara kesatuan masih ada dan berdaulat pada pada tangal 10 Maret 1949.

Adapun tujuan tampil di Ajungang, katanya, Radio Rimba Raya adalah aset negara, milik semua dan bukan hanya milik kabupaten sehingga ia menilai perlu menceritakan dalam PKA ini agar sejarah itu didengar oleh orang banyak dan tidak hilang serta semakin dikenal secara luas.

“Kita juga berharap, kedepanya radio rimba raya bukan hanya sekadar sejarah biasa namun harus adanya legitimasi atau pengakuan negara serta mamasukan RRI dalam kurikulum di sekolah,” harapnya. (*)

 

Sumber : acehsatu.com